Renungan Itik dengan Induknya



Siang yang terik, matahari menyinari dunia dengan cahaya nya yang cukup cetarbadaimembahana menyilaukan mata, mata ku terpaku pada segerombolan itik ayam yang berada di depan pagar rumahku. Itik-itik itu selalu terus berada di sisi ibu nya, mengelilingi sang ibu, bak seorang panglima perang yang sedang menjaga seorang ratu. Kemanapun ibu itik itu berjalan, anaknya selalu mengikuti, seperti ada pengikat tali di antara mereka, yang tak bisa lepas satu sama lain. Begitu pun dengan sang ibu itik itu, Ia selalu melindungi anak-anaknya, kemanapun salah satu anaknya berjalan, ia mengikutinya di belakang, menuntun nya kalau-kalau anaknya salah jalan atau salah arah.

Dalam hati ku berbicara, cerminan sang Ibu itik dengan anaknya itu, mencerminkan Ibuku terhadap anak-anaknya. Kemana pun anak nya berlaju, ibu selalu berada di belakang menjaga, melindungi setiap langkah kita. Mungkin terkadang kita tidak sadar, walau usia kita beranjak dewasa, namun ibu tak pernah begitu saja melepas kita. Ia merasa belum selesai tanggung jawabnya mengasuh,mendidik,melindungi anak-anaknya.Ia rela menghabiskan waktunya demi menjaga anaknya agar menjadi apa yang ia inginkan. Ia rela menghabiskan usianya demi melihat kita sukses dan tidak salah arah saat bertindak dan melangkah.

Sang induk itik itu berjalan sambil mencari dan mengai-ngais makanan, lalu di bagi-bagikan lah kepada anak-anaknya, setelah yakin semua anaknya sudah kedapatan, baru ia mengambil sisa makanan itu, dan mngisi perutnya. Diri ini terdiam, semua hal yang terjadi persis di depan mataku, benar-benar memberiku renungan dalam terhadap pengorbanan Ibu. Teringat kerja keras ibu yang dulu masih kuat, bekerja dari pagi dan pulang saat menjelang maghrib, dan membawa bingkisan makanan untuk anaknya yang sedang menunggu beliau di rumah.

Ibu bekerja, untuk anaknya, ibu mengorbankan waktu, semata-mata hanya untuk anaknya, ibu bekerja keras, memeras otak dan pikiran, terkadang menjadi beban pikiran, semata-mata hanya memikirkan masa depan anaknya. Begitu mulia perjuangan ibu, begitu banyak pengorbanan yang ia pikul di pundaknya. Suka duka ia simpan dalam hatinya. Aku terdiam sekali lagi, apa aku bisa menjadi itik itu? yang selalu ada di sisi ibunya, yang selalu melindungi ibunya apapun dan bgaimanapun caranya. Apa aku bisa seperti itu?,
Terdiam-Termenung- dan berfikir apa yang akan di lakukan.
-Fauziah.Az-

Komentar

Posting Komentar

Jika artikel ini bermanfaat, silakan Anda share dan jangan lupa untuk menautkan link blog ini ya :) Terima kasih.

Postingan populer dari blog ini

Puisi Tipografi

Cara Menghilangkan Tampilan "Welcome to Nginx"

Foto Buku Tahunan